Selasa, 19 Februari 2013

HUBUNGAN ANTARA FALSAFAH, PARADIGMA, MODEL KONSEPTUAL, TEORI KEPERAWATAN DAN METODOLOGI ILMIAH



(Elly Nurachmah)




Pengantar


Keperawatan merupakan pelayanan profesional yang diberikan oleh seseorang atau lebih kepada seseorang atau sekelompok orang yang sedang menghadapi masalah kesehatan aktual dan potensial di suatu tatanan pelayanan kesehatan. Pelayanan keperawatan diberikan dengan tujuan memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan orang atau sekelompok orang tersebut.

Keperawatan merupakan ilmu terapan yang menggunakan berbagai pengetahuan, konsep dan prinsip dari berbagai kelumpok ilmu. Pengetahuan keperawatan merupakan sintesis dari berbagai kelompok ilmu tersebut. Keberhasilan seorang perawat profesional dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada orang-orang yang membutuhkannya sangat tergantung pada kemampuannya mensintesis berbagai ilmu tersebut dan aplikasinya ke dalam suatu bentuk pelayanan profesional.

Pelayanan keperawtan profesional merupakan dasar perkembangan ilmu dan teori keperawatan karena teori membantu memberikan pengetahuan untuk meningkatkan praktek keperawatan melalui cara menyebutkan, menerangkan, memperkirakan dan mengendalikan fenomena. Dengan demikian, kemampuan perawat akan meningkat melalui pengetahuan teoritis karena secara sistematik dapat menegmbangkan metoda-metoda yang dapat mengakselerasi keberhasilan. Selain itu, para perawat akan mengetahui alasan mengapa perlu mengerjakan sesuatu dan apa yang mereka lakukan. Teori juga memberikan otonomi profesional dengan cara mengrahkan praktek, pendidikan, dan penelitian keperawatan terutama fungsi-fungsi profesi.

Keperawatn juga merupakan pengetahuan tentang perilaku dan kesehatan manusai sepanjang daur kehidupan manusia berlandaskan falsafah keperawatan yang meyakini manusai sebagai dindividu yang unik dan holistik. Falsafah keperawatan, paradigma keperawatan, model konseptual dapat melandasi perkembangan suatu teori keperawatan yang merupakan komponen disiplin keilmuan keperawatan yang kemudian dapat lebih memperluas suatu pengetahuan keperawatan. Keterkaitan dari setiap komponen ini menghasilkan suatu pengayaan dan pengembangan ilmu keperawatan melalui suatu penggunaan metoda ilmiah yang dapat menganalisis dan mensintesis ilmu keperawatan dari berbagai disiplin ilmu lain.

Pemahaman akan pengetahuan keperawatan memerlukan suatu wawasan tentang berbagai komponen yang terdapat dalam pengetahuan keperawatan dan menguraikan tentang pengetahuan keperawatan itu sendiri. Agar dapat memahami hubungan dari berbagai komponen tersebut, maka pemahaman setiap komponen sangat diperlukan untuk melandasi analisis hubungan beberapa komponen tersebut.


FALSAFAH KEPERAWATAN

Falsafah adalah pengetahuan yang menguraikan logika, etika, estetika, metafisika, dan epistemologi. Falsafah juga merupakan kajian tentang penyebab dan hukum-hukum yang mendasari realitas, serta keingin-tahuan tentang gambaran sesuatu yang lebih berdasarkan pada alasan logis daripada metoda empiris.

Tujuan dari adanya falsafah adalah untuk menyajikan suatu gambaran pengetahuan ilmiah yang diformalisasikan, termasuk didalamnya adalah suatu aplikasi prinsip logis untuk mempertanyakan tentang gambaran ilmiah. Hal ini karena logika memberikan prinsip utama hubungan antar pernyataan ilmiah. Dengan memeriksa hubungan-hubungan ini, landasan pengetahuan ditujukan untuk menghasilkan kebutuhan logis yang sistematik untuk semua pengetahuan ilmiah. Falsafah keilmuan harus menunjukkan bagaimana pengetahuan ilmiah sebenarnya dapat diaplikasikan yang kemudian menghasilkan pengetahuan tentang alam semesta.

Keperawatan merupakan profesi yang mengidentifikasi dirinya sebagai profesi yang humanistik, dan memberikan perhatian besar pada falsafah dasar yang berfokus pada individulitas dan keyakinan bahwa kegiatan manusia merupakan sesuatu yang dapat dilakukan secara bebas. Pilihan seseorang merupakan hak menentukan keinginan diri sebagai individu yang aktif.

Falsafah keperawatan adalah keyakinan dasar tentang pengetahuan keperawatan yang mengandung pokok pemahaman biologis manusia dan perilakunya dalam keadaan sehat dan sakit, serta terutama berfokus kepada respons mereka terhadap suatu situasi. Orientasi filosofis suatu pengetahuan adalah naturalistik dan empiris. Orientasi ini melibatkan kegiatan mengeksplorasi, menjelaskan dan mengklasifikasikan fenomena melalui proses observasi dan pemeriksaan langsung.

Falsafah keperawatan hampir secara universal memiliki keyakinan tentang manusia yang holistik. Pandangan tentang manusia yang holistik menekankan bahwa manusia memiliki integrasi yang tidak memungkinkan analisis tentang manusia dipilah-pilah menjadi sesuatu bagian kecil dan kemudian menyatukannya kembali. Oleh karena itu, manusia perlu dikaji secara bersamaan pada berbagai tingkatan dan perspektif yaitu status fisik, psikologis, pengetahuan diri, tujuan hidup, lingkungan sekelilingnya dan sebagainya. Disamping itu, manusia sebagai sistem terbuka memiliki kemampuan pertumbuhan yang tidak terbatas.

Falsafah keperawatan merupakan landasan pemahaman perawat tentang manusia sehat-sakit yang unik dan individualistik serta memiliki kemampuan untuk berespons secara negatif dan positif. Keunikan individu dinilai dan dikatakan terkait dengan kebudayaan, sosial ekonomi, agama, dan pengalaman yang relatif. Berdasarkan keholistikan, sistem terbuka, dan pandangan unik manusia, maka setiap individu akan mengalami pengalaman tentang realita dirinya sendiri. Selain itu, setiap individu juga akan mendapatkan pengalaman yang mencerminkan bahwa manusia merupakan makhluk sosial dan adaptif terhadap berbagai tingkat perubahan dan tantangan.
Berdasarkan keyakinan ini, seyogyanya perawat mampu mengeliminir respon negatif dan meningkatkan respon positif, serta memberdayakan kemampuan bersosialisasi dan beradaptasi dari seorang individu agar tetap dapat melangsungkan kehidupannya ditengah-tengah periode sakit atau ketika sehat. Perawat juga merupakan advokat untuk membantu mempertahankan hak-hak individu yaitu klien yang menjadi tanggung jawabnya. Perawat tidak membantu mewakili klien untuk menentukan pilihan akan tetapi mendidik klien bagaimana menentukan pilihan dan mendukungnya ketika klien telah menentukan pilihannya. Hal ini untuk menjamin bahwa hak  menentukan diri sendiri dari k1ien dapat dipertahankan dan memberi kesempatan pada k1ien untuk terlibat atau tidak  terlibat dalam merancang program perawatan kesehatannya.

PARADIGMA KEPERAWATAN
Paradigma merupakan pola atau skema yang mencoba mengorganisasikan atau menerangkan  suatu proses. Paradigma juga disebut sebagai tahap kedua perkembangan ilmu pengetahuan (Kuhn, 1962)  dimana pada tahap ini pencarian jalan keluar permasalahan yang rasional dilakukan  berdasarkan asumsi metodologis dan metafisik untuk memahami bagaimana hagian-bagian dari alam semesta melakukan kegiatan dan bagaimana cara mempelajari hal tersebut. Paradigma memiliki arti pengetahuan umum dimana didalamnya terdapat proses ilmiah umum yang secara historis mencerminkan berbagai keberhasilan dalam suatu disiplin.
Para ilmuwan di bidang sosial menganggap pendapat Kuhn terlalu sempit untuk diaplikasikan kedalam  pengetahuan sosial. Para ilmuwan ini berpendapat bahwa paradigma menyajikan kesepakatan bersama antar ilmuwan dalam suatu disiplin tentang konsep atau beberapa konsep yang akan mendasari perkembangan ilmu pengetahuan dalam disiplin tersebut. Paradigma memiliki dimensi penting dan memperlihatkan citra keilmuan mereka sebagai agen scientifik.
Paradigma keperawatan merupakan suatu pedoman yang menjadi acuan dan mendasari pelaksanaan praktek keperawatan diberbagai tatanan kesehatan. Seperti halnya definisi paradigma secara umum, maka paradigma keperawatan merupakan serangkaian konsep yang bisa sama dan terdapat dalam berbagai disiplin keilmuan lain, tetapi tidak memiliki definisi umum yang dapat berlaku secara universal. Paradigma ini terdiri dari empat komponen yaitu manusia, sehat dan kesehatan, masyarakat dan lingkungan, serta komponen keperawatan.
Manusia
Keperawatan meyakini dan menekankan dalam setiap kegiatan pelayanan keperawatannya bahwa manusia merupakan individu yang layak diperlakukan secara terhormat, dihargai keunikannya berdasarkan individualitas, dalam berbagai situasi, kondisi, dan sistem yang dapat mengancam kehormatan dan sifat kemanusiaannya. Perspektif keperawatan menjelaskan bahwa manusia merupakan pribadi-pribadi dan bukan obyek. Konseptualitas keperawatan tentang manusia dapat dibuktikan melalui model-model keperawatan tentang kemanusiaan, penghargaan terhadap manusia, dan perasaan sebagai manusia, yang telah berlaku sejak lama. Meskipun  demikian, mengkonseptualisasikan manusia sebagai suatu sumber energi atau beberapa set  sistem perilaku, atau memperlakukan pikiran dan perasaan manusia sebagai lingkungan internal dapat menimbulkan keraguan keperawatan untuk menerangkan tentang manusia secara jelas.
Sehat dan Kesehatan
Definisi  sehat & kesehatan telah berubah dari kondisi seseorang yang bebas penyakit menjadi kondisi yang mampu mempertahankan individu untuk berfungsi secara konsisten, stabil dan seimbang dalam menjalani kehidupan sehari-hari melalui interaksi positif dengan lingkungan. Kesehatan dipandang juga sebagai sebuah kisaran antara sehat dan sakit dimana individu memiliki suatu nilai yang berharga tentang kesehatan dan bukan semata-mata suatu fenomena empiris tentang kondisi seseorang.
Para teologis  berpendapat bahwa kesehatan bukan suatu elemen utama yang menjadi gambaran alami seorang individu, tetapi merupakan elemen tambahan bagi gambaran alami individu. Mereka menyatakan bahwa tingkat kesehatan individu dapat berbeda dan dapat dipersepsikan sebagai pelengkap yang bervariasi. Selain itu, makna kesehatan dikaitkan dengan dua elemen dasar proses kehidupan yaitu identitas diri dan perubahan diri.
Sebaliknya, keperawatan menolak bahwa kesehatan hanya merupakan kondisi bebas dari penyakit. Hal ini didukung oleh Smith yang mencarikan jalan keluar terhadap keragu-raguan keperawatan  tentang kesehatan, dan memperkenalkan empat model yaitu (a) model klinik berdasarkan tidak terdapatnya tanda dan gejala penyakit, (b) model kinerja peran dimana kinerja peran yang adekuat mencerminkan kriteria sehat, (c) model adaptif dimana kesehatan merupakan kondisi interaktif yang efektif antara fisik seseorang dan lingkungannya, dan  (d) model "eudaemonistik" yang memperluas makna kesehatan menjadi kesejahteraan umum dan realisasi diri  (Nicoll, 1993).
Bcrdasarkan model yang dikemukakan diatas serta keyakinan keperawatan akan definisi sehat dan kesehatan yang tidak terbatas pada kondisi bebas dan penyakit, maka komponen paradigma tentang sehat & kesehatan dapat berkembang menjadi suatu pemahaman tentang “terciptanya suatu kondisi fisik dan psikologis seseorang yang bebas dari tanda dan keluhan akibat terjadinya masalah kesehatan, dimana orang tersebut dapat tetap memperlihatkan kinerja aktif, dinamis, dan efektif serta kemampuan untuk menyesuaikan diri. terhadap setiap tantangan dan ancaman yang datang baik dari dalam dirinya sendiri maupun lingkungannya, dan berkemampuan untuk mempertahankan tingkat kesejahteraan fisik, psikologis, sosial dan spmtualnya secara seimbang melalui upaya aktualisasi diri yang positif” .
Masyarakat dan Lingkungan
Masyarakat dan lingkungan merupakan komponen dalam paradigma keperawatan dimana setiap individu berinteraksi. Masyarakat dan lingkungan juga dianggap sebagai sumber terjadinya keadaan sakit (tidak sehat) dan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan atau kondisi sakit seseorang. Orem (Marriner-Tomey, 1994) mengidentifikasi bahwa hubungan antara individu dan Iingkungannya serta kemampuan individu untuk mempertahankan kesehatan dirinya dapat dipenagruhi oleh lingkungan dimana individu itu berada. Individu selalu berada pada lingkungan fisik,  psikologis, dan sosial.
Fokus perhatian  terhadap interaksi manusia dan lingkungannya dalam teori keperawatan dapat dikategorikan menjadi dua bagian yaitu teori keperawatan yang berfokus parsial dan teori keperawatan yang berfokus total. Pada fokus parsial, perawat berperan sebagai pengganti, dimana peran perawat diperlukan pada saat klien tidak mampu melakukan kegiatannya. Teori ini beranggapan bahwa perawat bertanggung jawab terhadap kesehatan dan kebutuhan harian klien sampai mereka dapat pulih kembali dan mampu bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup selanjutnya (Marriner-Tomey, 1994).  Aplikasi teori ini dapat dilihat dalam  teori  Orem, Henderson, dan Orlando, dimana ketiga ahli teori ini sepakat bahwa peran perawat merupakan peran pengganti ketika klien tidak mampu, tidak mau atau tidak tahu merawat  diri dalam menjalankan fungsi interaksinya yang seimbang dengan lingkungan, yang dapat disebabkan oleh faktor  perkembangan, faktor ketidak mampuan, faktor keterbatasan lingkungan, faktor respons berlawanan terhadap interaksi lingkungan dan faktor ketidak­mampuan berkomunikasi.
Teori yang berfokus total dikemukakan melalui dukungan beberapa ahli teori keperawatan yaitu Nightingale, Levine, Rogers, Roy, Neuman, dan Johnson (Marriner-Tomey, 1994) yang memandang bahwa lingkungan merupakan kondisi eksternal sebagai sumber  ventilasi, kehangatan, kebisingan, dan pencahayaan dimana perawat dapat mengatur dan memanipulasinya dalam rangka membantu klien memulihkan diri. Dengan demikian, kegiatan keperawatan meliputi antara lain menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjadinya penyembuhan dan pemulihan kesehatan seorang klien.
Teeri ini juga menekankan bahwa keperawatan seyogyanya berperan aktif dalam memfasilitasi interaksi antara individu dan lingkungannya melalui upaya menciptakan lingkungan fisik yang kondusif agar kondisi kesehatan dapat tercapai. Selain itu, berperan aktif melalui hubungan interaksi klien dan lingkungan yang tidak terpisahkan dan amat ekstensif   (komplementer, helisi, dan resonansi). Juga, melalui upaya mempertahankan dan meningkatkan kemampuan proses adaptasi klien terhadap berbagai stimulus. Disamping itu, melalui kemampuan meningkatkan sistem terbuka klien secara intrapersonal, interpersonal, dan ekstrapersonal, dan memfasilitasi sistem perilaku yang positif rnelalui peningkatan fungsi ­- fungsi interrelasi dan interdependensi subsistem yang terdapat dalam setiap individu.
Keperawatan
Menurut Henderson, keperawatan merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada individu baik sehat maupun sakit,  yang dibutuhkan sampai pulih kembali atau menjelang ajal, dimana individu  tidak mampu melaksanakan kegiatan kehidupannya akibat ketidak mampuan, ketidak mauan,  dan ketidak-tahuan (Marriner-Tomey, 1994). Asuhan keperawatan adalah pelayanan yang diberikan kepada klien (individu atau kelompok) yang sedang mengalami stress kesehatan - stress penyakit dimana situasi kehidupan yang seimbang menjadi terganggu dan menghasilkan tekanan (biologis, psikologis, dan sosial) serta ketidak-nyamanan.
Berbeda dengan profesi kedokteran yang memfokuskan kepada diagnosis medis dan pengobatan penyakit, serta masalah-masalah kesehatan yang terkait dengan penyakit, maka penekanan dalam keperawatan lebih kepada kehidupan manusia dan pola hidupnya serta respon terhadap penyakit. Penyakit dan masalah kesehatan bagi keperawatan bukan merupakan fokus yang dominan, tetapi faktor-faktor tersebut perlu untuk difahami karena efek dan konsekuensi  faktor-faktor tersebut terhadap kehidupan manusia dan pola hidupnya (Nicoll, 1993). Oleh karena itu fokus, penekanan, tujuan, pohon keilmuan, model, teori, dan riset amat berbeda antara profesi medik dan keperawatan. Demikian pula aktivitas dari para praktisi dalam keperawatan akan berbeda dengan praktisi medik .
Keperawatan dapat dipandang sebagi suatu proses kegiatan dan juga sebagai suatu keluaran kegiatan, tergantung dari cara memandang dan perspektif pandangan. Sebagai proses serangkaian kegiatan, maka keperawatan perlu mengorganisasikan, mengatur, mengkoordinasikan serta mengarahkan berbagai sumber (termasuk  klien didalamnya) untuk digunakan seefektif dan efisien mungkin dalam rangka memenuhi kebutuhan klien. Selain itu, untuk mengatasi masalah-masalah aktual dan potensial klien melalui suatu bentuk pelayanan keperawatan yang menekankan pada pengadaan fasilitasi interaksi klien dan lingkungannya.
Keperawatan sebagai dimensi keluaran dipandang sebagai titik akhir pencapaian tujuan dimana keperawatan berhasil menghantarkan klien kembali kepada keadaan awal sebelum sakit sehingga mampu berfungsi sebagai individu sosial yang dapat berinteraksi dengan lingkungan dalam rangka mempertahankan kesejahteraan fisik, psikologis dan sosial.
Keperawatan sering diartikan pula sebagai serangkaian kegiatan atau fungsi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Akan tetapi, banyak pihak yang merasa belum jelas, apakah fungsi-fungsi, proses dan tujuan keperawatan ini, apakah keperawatan hanya memberikan perawatan, ataukah sejenis penyembuhan, apa indikasi keperawatan, apakah keperawatan berfokus pada orang atau lingkungan atau interaksi antara orang dan lingkungan?. Untuk menjawab hal – hal ini telah banyak diperkenalkan model-model keperawatan. Dan banyak tujuan keperawatan terkait dengan upaya mempertahankan keseimbangan, upaya adaptasi, merancang pola kehidupan kembali dimana kesemuanya dilakukan dalam rangka pulihnya situasi sehat dan kesehatan.
Konseptualisasi keperawatan yang memfokuskan kepada proses interpersonal atau hubungan antar manusia telah mengarahkan keperawatan sebagai suatu pelayanan kesehatan yang menekankan pada hubungan saling menolong antar manusia.

MODEL KONSEPTUAL
Model konseptual tersusun dari idea-idea (konsep-konsep) abstrak dan umum, dan proposisi yang menspesifikasi hubungan diantara keduanya. Model konseptual amat penting sebagai  landasan perkembangan disiplin keperawatan. Tetapi, perbedaan antara skema yang abstrak dan teori substansi  sering membingungkan profesi keperawatan itu sendiri.
Model konseptual merupakan suatu  kerangka kerja konseptual, sistem atau skema yang menerangkan  tentang serangkaian idea-idea global tentang keterlibatan individu, kelompok, situasi, atau kejadian, terhadap suatu ilmu dan pengembangannya. Fenomena ini diklasifikasikan  menjadi konsep, terdiri dari kata – kata yang mengandung citra mental dari  sesuatu yang akan dijelaskan. Konsep bisa berupa idea abstrak (seperti adaptasi, ekuilibrium) atau idea konkrit (misalnya bangku atau papan tulis). Karena itu, model konseptual dapat dijabarkan sebagai serangkaian  konsep dan asumsi yang  berintegrasi menjadi suatu gambaran yang berrnakna.
Model konseptual keperawatan menguraikan situasi yang terjadi dalam suatu lingkungan atau stressor yang mengakibatkan seseorang individu berupaya menciptakan perubahan yang adaptif dengan menggunakan sumber-sumber yang tersedia. Model konseptual keperawatan mencerminkan upaya menolong orang tersebut mempertahankan keseimbangan melalui pengembangan mekanisme koping yang positif untuk rnengatasi stressor ini. Melalui penjelasan  tentang fenomena ini dan keterkaitan antara istilah umum dan abstrak maka model konseptual mencerminkan  langkah pertama. mengembangkan formulasi teoritis yang diperlukan untuk kegiatan ilmiah.

Model konseptual sering tersusun sebagai hasil dari pendalaman intuitif seorang ilmuwan terutarna terjadi dalam lingkup keilmuan disiplin terkait. Sintesis yang terjadi dalam  pengembangan skema konseptual baru sering mengakibatkan suatu hasil yang unik untuk lingkup keilmuan tersebut.
Model konseptual keperawatan telah memperjelas kespesifikan area fenomena ilmu keperawatan yang melibatkan empat konsep yaitu manusia sebagai pribadi yang utuh dan unik. Konsep kedua adalah lingkungan yang bukan hanya merupakan surnber awal masalah tetapi juga merupakan sumber pendukung bagi individu. Kesehatan merupakan konsep ketiga dimana konsep ini menjelaskan tentang kisaran sehat-sakit yang hanya dapat terputus ketika seseorang meninggal. Konsep keempat adalah keperawatan  sebagai komponen penting dalam  perannya sebagai faktor  penentu pulihnya atau meningkatnya keseimbangan kehidupan seseorang (klien).
Konseptualisasi keperawatan umumnya memandang manusia sebagai mahluk biopsikososial yang berinteraksi dengan keluarga, rnasyarakat, dan kelompok lain termasuk lingkungan fisiknya. Tetapi cara pandang dan fokus penekanan pada skema konseptual dari setiap ilmuwan dapat berbeda satu sama lain, seperti penekanan pada sistem adaptif manusia, subsistem perilaku atau aspek komplementer.
Model konseptual mendefinisikan sehat sebagai kisaran sehat-sakit dari seseorang, dan lingkungan kondusif untuk pemulihan kesehatan. Model ini juga mengidentifikasi tujuan keperawatan yang biasanya menterjemahkannya dari definisi sehat yang dimaksud. Dalam konsep keperawatan juga terlibat suatu penjelasan tentang proses keperawatan dan pola pikir yang terbentuk dari konsep ini.

TEORl KEPERAWATAN
Teori merupakan serangkaian konsep, definisi, dan proposisi yang menunjukkan gambaran fenomena yang sistematik dan yang bertujuan menyebutkan, menjelaskan, dan memprediksikan. Teori adalah serangkaian konsep yang saling terkait yang menspesifikasi hubungan antar variabel. Dengan demikian, teori keperawatan adalah serangkaian pemyataan tentang fenomena yang saling terkait yang amat berguna untuk menyebutkan, menjelaskan, memprediksi, dan mengendalikan (Walker & Avant, 1995, 2004).
Teori terdiri dari set, postulate, definisi dan hipotesa. Set adalah sekumpulan obyek atau elemen. Tetapi fakta, prinsip, dan hukum tidak merupakan suatu teori. Meskipun demikian, apabila seorang ilmuwan memilih fakta, prinsip, dan hukum tertentu dari rangkaian universal karena keterhubungan dan relevansi dari masalah yang diteliti, maka ilmuwan tersebut telah . memenuhi persaratan set yang diperlukan untuk pengembangan suatu teori. Akan tetapi ketika seorang ilmuwan ingin mengembangkan suatu teori baru, selayaknya ia juga mengkaji apa tujuan dan inti dari teori ini serta bagaimana penjelasannya.
Titik sentral suatu teori terdiri dari beberapa postulat dan merupakan suatu pernyataan kebenaran umum yang memberikan janji (harapan) penting tentang apa yang sedang diteliti. Postulat biasanya dinyatakan sebagai generalisasi yang konsisten dengan bukti-bukti ilmiah dari suatu masalah penelitian. Sebagai contoh, Roger mengembangkan teori tentang manusia dimana teori ini terdiri dari empat postulat yang membahas tentang keutuhan seorang individu, fluiditas, sense pola dan organisasi, dan kalimat (Nicoll, 1993).
Definisi dari suatu teori merupakan cara berkomunikasi yang penting bagi semua ilmuwan. Definisi konsep-konsep yang membentuk teori perlu dijabarkan secara jelas dan mencerminkan operasionalisasi dari teori itu sendiri. Ada tiga jenis definisi teori yaitu primitif, teoritis, dan kunci. Definisi primitif adalah definisi yang tidak dapat dioperasionalisasikan, dan hanya dapat diinterpretasikan bila seseorang yang akan menerapkan teori ini pernah mengalami atau secara intuitif memahami latar belakangnya. Definisi teoritis adalah definisi yang juga tidak dapat dioperasionalisasikan secara independent,  tetapi hanya akan dapat dioperasionalisasikan apabila dikaitkan dengan konsep / terminologi lain. Definisi kunci merupakan definisi yang dapat dioperasionalisasikan sehingga hipotesis yang sedang diteliti dapat diujikan. Definisi kunci hampir sama artinya dengan definisi operasional suatu riset dimana melalui penggunaan instrumen yang valid dan reliable, hipotesa dapat diuji.

Hipotesis merupakan perkiraan atau prediksi yang berasal dari serangkaian postulat, yang menyebutkan hubungan antar dua atau lebih variabel. Melalui hubungan ini maka variabel dapat diobservasi dan diuji. Pengujian ini penting untuk rnenjembatani teori dan pengetahuan. Berdasarkan keempat denominator suatu teori. rnaka definisi teori adalah serangkaian pernyataan yang berhubungan yang berasal dari data ilmiah, dimana dari hal tersebut hipotesis dapat disusun, diuji,  dan diverifikasi.

 


Teori keperawatan yang berkembang dan berasal dari aspek-aspek dan berbagai dimensi kemanusiaan telah dibuktikan banyak menirnbulkan dampak terhadap praktek keperawatan, dimana teori menghasilkan suatu situasi yang diharapkan. Sebaliknya, situasi yang dihasilkan oleh suatu teori dapat menolong seorang ilmuwan untuk menyusun, menguji, merevisi atau rnenghaluskan serta menggunakan teori keperawatan. Kegiatan praktek keperawatan bertujuan untuk memperbaiki dan lebih meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan seorang klien. Kegiatan ini seyogyanya berlandaskan teori dan hasil riset, karena melalui hasil uji suatu hipotesa maka kegiatan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Skema berikut ini menjelaskan tentang ilmu keperawatan yang merupakan sintesis dari berbagai ilrnu dasar dan ilmu aplikatif terkait, dapat menghasilkan suatu operasionalisasi kegiatan pengetahuan keperawatan yang mencerminkan suatu seni dari kegiatan keperawatan.










 








Skema I: Ilmu keperawatan dan operasionalisasinya. (Nicoll, 1993, p.I92).
Perbedaan model konseptual dan teori keperawatan harus diawali dengan penjelasan karakteristik dari masing-masing model konseptual dan teori. Model konseptual terrnasuk asumsinya merupakan landasan untuk mengembangkan sebuah teori, dimana ditekankan tentang konsep-konsep, definisi, dan proposisi dari teori tersebut. Sedangkan teori adalah serangkaian konsep yang saling berhubungan yang menggambarkan tentang sesuatu situasi yang diharapkan. Teori disusun secara induktif, deduktif ataupun  retroduktif.  Cara apapun yang ditempuh untuk menciptakan suatu teori, maka untuk mencapai akhir dari sebuah teori (menggunakan teori) perlu suatu imaginasi, pengetahuan tentang materi/substansi teori, dan pemikiran logis. Selain itu, menyusun teori bukan pekerjaan yang lurus dan mudah karena tidak banyak model konseptual yang tersedia bagi pengembangan suatu teori  tertentu. Oleh karena itu, perbedaan model konseptual dan teori keperawatan terletak pada lingkar abstraksi, dimana model konseptual lebih abstrak dari teori, dan teori mengandung konsep, definisi, dan proposisi yang lebih konkrit serta memberikan spesifikasi fenomena yang lebih besar dan penjelasan hubungan postulat yang lebih rinci.

METODOLOGI ILMIAH
Metodologi ilmiah telah ditemukan sebagai cara yang paling efektif untuk menentukan hubungan antar variabel, sehingga memungkinkan tumbuhnya pengertian, prediksi, dan suatu tingkatan kendali. Metodologi ilmiah dapat diperlakukan sebagai suatu proses, dimana setiap langkah dalam metodologi ilmiah mencerminkan suatu keyakinan yang memberikan kontribusi terhadap falsafah keilmuan dan terhadap suatu cara utama dalam memandang dunia. Para ilmuwan akan memilih apa yang akan dipelajari, dan kernudian terlibat dalam proses reduksionisme diri. Dengan memilih sesuatu yang dapat diobservasi atau bagian yang dapat diukur dari suatu lingkungan individu, ilmuwan akan rnenentukan batasan-batasan rnasalah. Hal ini rnerupakan persyaratan pertarna suatu metoda ilmiah.
Para ilmuwan biasanya berusaha menjaga jarak dengan masalah yang sedang diteliti agar tetap dapat bersikap obyektif  tentang fenomena yang diteliti. Peneliti menjadi obyektif, dan apa yang diteliti menjadi obyektif, suatu obyek penelitian. Masalah yang tidak terbatas perlu dibuat definisinya, dan definisi dibuat secara operasional, sehingga rnenjadi sesuatu yang dapat diobservasi dan diukur. Realitas diuraikan rnenjadi sesuatu yang empirik dan dapat diukur, dan definisi lebih lanjut yang disesuaikan dengan pengalaman peneliti akan dapat rnenetapkan arti dari sebuah fenornena, rneskipun jarang sekali seorang peneliti dapat mengalami hal itu.
Pengendalian adalah serangkaian upaya untuk mengintervensi variabel dari luar. Sebagai contoh, setiap kelompok individu dibuat sehomogen mungkin untuk rnengurangi pengaruh variabel yang mendominasi variabel lain diluar variabel yang akan diukur. Percobaan dilakukan, variabel dimanipulasi, instrumen diberikan, diukur, dan dianalisa secara statistik. Pengukuran tendensi sentral sering rnengarahkan pada terjadinya dukungan hipotesa atau tidak didukungnya hipotesa. Teori dihasilkan secara rerata untuk rata-rata individual. Kategorisasi, labeling dan manipulasi lebih lanjut memungkinkan prediksi dan pengendalian berikutnya.
Metodologi ilmiah keperawatan rnerupakan suatu kegiatan penelitian yang terdiri dari metoda riset kuantitatif dan kualitatif. Dan praktek keperawatan membutuhkan pengembangan teori- teori sebagai bagian dari suatu disiplin keilmuan, termasuk didalamnya kegiatan riset yang mempelajari perilaku perawat dan riset yang meneliti tentang aspek-aspek klien.
Harapan dasar dari suatu metodologi ilmiah adalah bahwa (1) individual merupakan mahluk yang hampir mirip satu sama lain sesuai dengan kategori, (2) pengalaman dapat dikuantifikasi, dan (3) kekonstanan atau kepasifan manusia dan lingkungan dapat dihasilkan. Hasil akhir adalah suatu teori yang menghasilkan situasi yang bersifat deterministik, atomistik, dan scientifik. Pandangan alam semesta yang mendasar adalah mekanistik, yaitu manusia berreaksi terhadap stimuli untuk menghasilkan suatu hasil yang diinginkan sesuai dengan yang ditetapkan oleh perawat, sebagai pemberi asuhan keperawatan.
Dalam pengembangan teori, metoda ilmiah kualitatif  berperan lebih konsisten dengan keyakinan falsafah keperawatan yang telah ditetapkan dimana subyektifitas, berbagi pengalaman, berbagi bahasa, saling keterkaitan, interpretasi manusiawi, dan realitas yang dialami dapat dikemukakan melalui proses riset.

Kesimpulan
Keperawatan merupakan suatu disiplin ilmu yang menekankan pada kemanusiaan, dan rnanusianya yang individual, unik, utuh, dan holistik. Pelayanan keperawatan yang dihasilkan juga seyogyanya merupakan hentuk pelayanan keperawatan yang humanistik dan komprehensif, berlandaskan pada falsafah keperawatan yang menspesifikasi manusia sebagai titik sentral keyakinan keperawatan.
Melalui pemahaman tentang paradigma keperawatan yang terdiri dari manusia, sehat dan kesehatan, lingkungan, dan keperawatan, suatu model konseptual keperawatan dari keempat komponen paradigrna tersebut telah menjelaskan hubungan dan keterkaitan antar keempat konsep yang juga melandasi teori keperawatan.
Teori keperawatan dapat dikembangkan berdasarkan pada tiga sumber yaitu kesadaran akan status teori aplikasi, minat untuk mengembangkan teori aplikasi, dan keterbukaan terhadap realitas empiris yang relevan. Dan teori keperawatan dapat diperoleh melalui konseptualisasi proses riset yang memfokuskan terhadap berbagai upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan manusia yang diberikan melalui pelayanan keperawatan.
Penggunaan metode ilmiah sebagai model pendekatan yang paling serius dan penting untuk memahami tempat manusia di alam semesta telah mendapat porsi perdebatan yang kontinyu dikalangan ilmuwan. Profesi keperawatan telah menentukan komitmennya melalui perhatian dan persepsinya tentang penerima asuhan keperawatan sebagai fokus dan orientasi utama dalam riset keperawatan. Sebaliknya, melalui kegiatan riset ini dapat mengembangkan teori- ­teori keperawatan baru yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan individu yang memerlukan tindakan keperawatan. Skema berikut ini mencoba untuk merangkum keterkaitan antara falsafah, paradigma, model konseptual, dan teori keperawatan serta metodologi ilmiah.











 











------------------------------- manusia dan spesifikasinya ---------------------------------------
      Sebagai fokus dan inti kegiatan pengembangan pengetahuan keperawatan


Daftar Rujukan

Nicoll, L. H. (1992). Perspectives on nursing theory. Second  edition. Philadelphia: J. B. Lippincott Company.
Marriner-Tomey, A. (2004). Nursing theorists and their work. Sixth edition. St. Louis: Mosby Company.
Walker, L. 0., & Avant, K. C. (1995). Strategies for theory construction in nursing. Third edition. Norwalk, CT : Appleton & Lange.
Walker, L. 0., & Avant, K. C. (2004). Strategies for theory construction in nursing. Fifth edition. Norwalk, CT : Appleton & Lange.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Eagle Belt Buckles