Senin, 25 Februari 2013

Teori Keperawatan Orlando


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pengetahuan tentang proses pengembangan empiris teori/model konseptual merupakan dasar untuk memahami disiplin ilmu keperawatan, sehingga perawat menyadari kebutuhan akan teori-teori keperawatan untuk membimbing penelitian dan praktek professional keperawatan. Salah satu teori keperawatan yang memberikan pengaruh di dalam pelayanan keperawatan adalah Nursing Process Theory yang diperkenalkan oleh Ida Jean Orlando.
Ida Jean Orlando, lahir pada tanggal 12 Agustus 1926 di New Jersey.  Ia memiliki karir sebagai pelaksana, pendidik, peneliti, dan konsultan di keperawatan. Dia mengawali karirnya sebagai staf perawat di ruangan Obstetri, penyakit dalam, dan ruang bedah, serta ruang emergency. Dia juga memegang posisi supervisor dan asisten dua direktur keperawatan. Dia diterima di Diploma Keperawatan Fakultas Kesehatan di New York tahun 1947 dan BSN di Public Health Nursing St. John’s University Brooklyn tahun 1951. Pada tahun 1954, dia menerima gelar MA dari Konsultasi Kesehatan Jiwa Columbia University, New York. Dia lalu pergi ke Yale University sebagai Assosiate Peneliti dan investigator prinsip pada proyek pembelajaran integrasi konsep kesehatan mental kedalam basic nursing curriculum. Hal ini dijadikan dasar publikasi buku pertamanya yang berjudul “The Dynamic Nurse-Patient Relationship : Function, Process and Principles” tahun 1961.
Pada tahun 1962, Orlando menikah dengan Robert Pelletier dan pindah ke Massachusetts. Dia menjadi konsultan perawatan klinis untuk rumah sakit psikiatrik McLean Hospital. Pada saat di McLean Hospital, dia melakukan penelitian, yang akhirnya penelitian dijadikan dasar publikasi buku keduanya (1972), dengan judul ‘The Dicipline and Teaching of Nursing Process’. Sejak tahun 1972,  Orlando bekerjasama secara berkesinambungan dengan sekolah keperawatan di Boston University, dia mengajar teori keperawatan dan melakukan supervisi terhadap lulusan di area klinik.
Sepanjang karirnya, Orlando juga aktif di beberapa organisasi, diantaranya Assosiasi Perawat Massachusetts dan Harvard Community Health plan. Dia juga mengajar dan menawarkan whorkshop serta sebagai konsultan di beberapa agensi. 

1.2  Perumusan Masalah
Perumusan  masalah dalam makalah ini adalah menganalisis teori Proses Keperawatan Orlando yang berfokus pada asumsi theorist terhadap konsep-konsep sentral disiplin ilmu keperawatan

1.3  Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.   Menjelaskan konsep utama Nursing Process Theory Of Orlando.
2.   Menjelaskan tentang disilpin proses keperawatan menurut Orlando
3.   Menjelaskan asumsi utama Nursing Process Theory Of Orlando terhadap empat konsep sentral disiplin ilmu keperawatan meliputi: keperawatan, manusia, kesehatan dan lingkungan
4.   Mengidentifikasi perbedaan proses keperawatan dengan disiplin proses keperawatan Orlando
5.   Menganalisis Nursing Process Theory Of Orlando menggunakan proses keperawatan sebagai pendekatan aplikatif dalam asuhan keperawatan.

1.4  Manfaat
Makalah  ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman perawat tentang Nursing Process Theory Of Orlando sehingga dapat diterapkan pada asuhan keperawatan.

BAB II
STUDI LITERATUR


2.1  Konsep Utama Dalam Teori Proses Keperawatan Orlando
            Menurut Orlando, keperawatan bersifat unik dan independent karena berhubungan langsung dengan kebutuhan pasien yang harus dibantu, nyata atau potensial serta pada situasi langsung. Teori Orlando berfokus pada pasien sebagai individu, artinya masing – masing orang berada pada situasi yang berbeda. Orlando mendefinisikan kebutuhan sebagai permintaan/kebutuhan pasien dimana bila disuplai, dikurangi, atau menurunkan distress secara langsung atau bahkan meningkatkan perasaan tercukupi/wellbeing.
            Teori keperawatan Orlando menekankan ada hubungan timbal balik antara pasien dan perawat, apa yang mereka katakan dan kerjakan akan saling mempengaruhi. Perawat sebagai orang  pertama yang mengidentifikasi dan menekankan elemen-elemen pada proses keperawatan serta hal-hal kritis penting dari partisipasi  pasien dalam proses keperawatan. Proses aktual interaksi perawat-pasien sama halnya dengan interaksi antara dua orang . Ketika perawat menggunakan proses ini untuk mengkomunikasikan reaksinya dalam merawat pasien, orlando menyebutnya sebagai ”nursing procces discipline”. Hal ini merupakan alat yang dapat perawat gunakan untuk melaksanakan fungsinya dalam merawat pasien.
                  Orlando menggambarkan model teorinya dengan lima konsep utama yaitu fungsi perawat profesional, mengenal perilaku pasien, respon internal atau kesegeraan, disiplin proses keperawatan serta kemajuan
      1.   Tanggung jawab perawat
            Tanggung jawab perawat yaitu membantu apapun yang pasien butuhkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut (misalnya kenyamanan fisik dan rasa aman ketika dalam mendapatkan pengobatan atau dalam pemantauan. Perawat harus mengetahui  kebutuhan pasien untuk membantu memenuhinya. Perawat harus mengetahui benar peran  profesionalnya, aktivitas perawat  profesional yaitu tindakan yang dilakukan perawat secara bebas dan bertanggung jawab guna mencapai  tujuan dalam membantu pasien. Ada beberapa aktivitas spontan dan rutin yang bukan aktivitas profesional perawat yang dapat dilakukan oleh perawat, sebaiknya hal ini dikurangi agar perawat lebih terfokus pada  aktivitas-aktivitas yang benar-benar menjadi kewenangannya. 
      2.   Mengenal perilaku pasien
            Mengenal perilaku pasien yaitu dengan mengobservasi apa yang dikatakan pasien maupun perilaku nonverbal yang ditunjukan pasien.
      3.   Reaksi segera
            Reaksi segera meliputi persepsi, ide dan perasaan perawat dan pasien. Reaksi segera adalah respon segera atau respon internal dari perawat dan persepsi individu pasien , berfikir dan merasakan.
      4.   Disiplin proses keperawatan
            Menurut George  (1995 hlm 162) mengartikan disiplin proses keperawatan sebagai  interaksi total (totally interactive) yang dilakukan tahap demi tahap, apa yang terjadi antara perawat dan pasien dalam hubungan tertentu, perilaku pasien, reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk  membantunya serta untuk melakukan  tidakan yang tepat.
      5.   Kemajuan / peningkatan
            Peningkatan berari tumbuh lebih, pasien menjadi lebih berguna dan produktif.

2.2  Disiplin Proses Keperawatan Dalam Teori Proses Keperawatan Orlando
                        Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa disiplin proses keperawatan dalam nursing procces theory dikenal dengan sebutan proses disiplin atau proses keperawatan. Disiplin proses keperawatan meliputi komunikasi perawat kepada pasiennya yang sifatnya segera, mengidentifikasi  permasalahan klien  yang disampaikan  kepada perawat,  menanyakan  untuk validasi atau perbaikan. Disiplin proses keperawatan didasarkan pada ” proses bagaimana seseorang bertindak”. Tujuan dari proses disiplin ketika digunakan antara perawat dan pasien  adalah untuk membantu pemenuhan kebutuhan pasien. Peningkatan perilaku pasien merupakan indikasi dari pemenuhan kebutuhan sebagai hasil yang diharapkan.
      1.   Perilaku Pasien                                 
            Disiplin proses keperawatan dilaksanakan sesuai dengan  perilaku pasien . seluruh perilaku pasien yang tidak sesuai dengan permasalahan dapat dianggap sebagai ekpresi yang membutuhkan pertolongan, ini sangat berarti pada pasien tertentu dalam kondisi gawat harus dipahami. Orlando menekankan hal ini pada prinsip pertamanya ”Dengan diketahuinya perilaku pasien , atau tidak diketahuinya yang seharusnya ada hal tersebut menunjukkan pasien membutuhkan suatu bantuan”.
            Perilaku pasien dapat verbal dan non verbal. Inkonsistensi antara dua perilaku ini dapat dijadikan faktor  kesiapan perawat dalam memenuhi kebutuhan pasien. Perilaku verbal yang menunjukkan perlunya pertolongan seperti keluhan, permintaan, pertanyaan, kebutuhan dan lain sebagainya. Sedangkan perilaku nonverbal misalnya heart rate, edema, aktivitas motorik: senyum, berjalan, menghindar kontak mata dan lain sebagainya. Walaupun seluruh perilaku pasien dapat menjadi indikasi perlunya bantuan tetapi jika hal itu tidak dikomunikasikan dapat menimbulkan masalah dalam interaksi perawat-pasien. Tidak efektifnya perilaku pasien merupakan indikasi dalam memelihara hubungan perawat-pasien, ketidakakuratan dalam mengidentifikasi kebutuhan pasien yang diperlukan perawat, atau reaksi negatif pasien terhadap tindakan perawat. Penyelesaian masalah tidak efektifnya perilaku pasien layak diprioritaskan. Reaksi dan tindakan perawat harus dirancang  untuk menyelesaikan perilaku seperti halnya memenuhi kebutuhan yang emergenci
      2.   Reaksi Perawat
            Perilaku pasien menjadi stimulus bagi perawat , reaksi ini terdiri dari 3 bagian yaitu  pertama perawat merasakan melalui indranya, kedua yaitu perawat berfikir secara otomatis, dan ketiga adanya hasil pemikiran sebagai suatu yang dirasakan. Contoh perawat melihat pasien merintih, perawat berfikir bahwa pasien mengalami nyeri kemudian memberikan perhatian
            Persepsi, berfikir, dan merasakan terjadi secara otomatis dan hampir simultan. Oleh karena itu perawat harus belajar mengidentifikasi setiap bagian dari reaksinya. Hal ini akan membantu dalam menganalisis reaksi yang menentukan mengapa ia berespon demikian. Perawat harus dapat menggunakan reaksinya untuk tujuan membantu pasien.
            Displin proses keperawatan menentukan bagaimana perawat membagi reaksinya dengan pasien. Orlando menawarkan prinsip untuk menjelaskan penggunaan dalam hal berbagi “ beberapa observasi dilakukan  dan dieksplorasi dengan pasien adalah penting untuk memastikan dan memenuhi kebutuhannya atau mengenal yang tidak dapat dipenuhi oleh pasien pada waktu itu.
            Orlando (1972) menyampaikan 3 kriteria untuk memastikan keberhasilan perawat dalam mengeksplor dan bereaksi dengan pasien, yaitu ;
a.       Perawat harus menemuinya dan konsisten terhadap apa yang dikatakannya dan mengatakan  perilaku nonverbalnya kepada pasien
b.      Perawat harus dapat mengkomunikasikannya  dengan jelas terhadap apa yang akan diekspresikannya
c.       Perawat harus menanyakan kembali kepada pasien langsung untuk perbaikan atau klarifikasi.
      3.   Tindakan Perawat
            Setelah memvalidasi dan memperbaiki reaksi perawat terhadap perilaku pasien, perawat dapat melengkapi proses disiplin dengan tindakan keperawatan, Orlando menyatakan bahwa apa yang dikatakan dan dilakukan oleh perawat dengan atau untuk kebaikan pasien adalah merupakan suatu tidakan profesional perawatan. Perawat harus menentukan tindakan yang sesuai untuk membantu memenuhi kebutuhan pasien. Prinsip yang menjadi petunjuk tindakan menurut Orlando yaitu perawat harus mengawali dengan mengekplorasi untuk memastikan bagaimana mempengaruhi pasien melalui tindakan atau kata-katanya.
            Perawat dapat bertindak dengan dua cara yaitu : tindakan otomatis dan tindakan terencana. Hanya tindakan terencana  yang memenuhi fungsi profesional perawat. Sedangkan tindakan otomatis dilakukan bila kebutuhan pasien yang mendesak, misalnya tindakan pemberian obat atas intruksi medis. Dibawah ini merupakan kriteria tindakan keperawatan yang direncanakan:
a.       tindakan merupakan hasil dari indentifikasi kebutuhan pasien dengan memvalidasi reaksi perawat terhadap perilaku pasien.
b.      Perawat menjelaskan maksud tindakan kepada pasien dan sesuai untuk memenuhi kebituhan pasien.
c.       Perawat memvalidasi efektifitas tindakan, segera setelah dilakukan secara lengkap
d.      Perawat  membebaskan stimulasi yang tidak berhubungan dengan kebutuhan pasien ketika melakukan tindakan.
Tindakan otomatis tidak akan memenuhi kriteria tersebut. Beberapa contoh tindakan otomatis tindakan rutinitas, melaksanakan instruksi dokter, tindakan perlindungan kesehatan secara umum. Semua itu tidak membutuhkan validasi  reaksi perawat
4.   Fungsi profesional
                     Tindakan yang tidak profesional dapat menghambat  perawat dalam menyelesaikan fungsi profesionalnya, dan dapat menyebabkan tidak adekuatnya perawatan pasien. Perawat harus tetap menyadari bahwa aktivitas termasuk profesional jika aktivitas tersebut direncanakan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan pasien.
                     Disiplin proses keperawatan adalah serangkaian tindakan dengan suatu perilaku pasien yang membutuhkan bantuan. Perawat harus bereaksi terhadap perilaku pasien dengan mempersepsikan, berfikir dan merasakan. Perawat membagi aspek reaksinya dengan pasien, meyakinkan bahwa tindakan verbal dan nonverbalnya adalah konsisten dengan reaksinya, dan mengidentifikasi reaksi sebagai dirinya sendiri, dan perawat mengunjungi pasien untuk memvalidasi reaksinya. Membagi reaksinya oleh perawat membantu pasien untuk menggunakan proses yang sama agar lebih efektif perlu komunikasinya. Selajutnya tindakan yang sesuai untuk menyelesaikan kebutuhan adalah saling menguntungkan antar pasien dan perawat. Setelah perawat bertindak, perawat segera katakan kepada pasien jika tindakannya berhasil interaksi. Secara keseluruhan interaksi , perawat meyakinkan bahwa perawat bebas terhadap stimulasi tambahan yang bertentangan dengan reaksinya terhadap pasien.

2.3  Paradigma Keperawatan Teori Proses Keperawatan Orlando
Asumsi Orlando terhadap metaparadigma keperawatan hampir seluruhnya terkandung dalam teorinya. Sama dengan teori-teori keperawatan pendahulunya asumsinya tidak spesifik, namun demikian Schmieding (1993) mendapatkan dari tulisan Orlando mengenai  empat area yang ditekuninya :

 1. Keperawatan
      Keperawatan adalah suatu profesi yang mempunyai fungsi autonomi yang didefinisikan sebagai fungsi profesional keperawatan. Fungsi profesional yaitu membantu mengenali dan menemukan kebutuhan pasien yang bersifat segera. Itu merupakan tanggung jawab perawat untuk mengetahui kebutuhan pasien dan membantu memenuhinya. Dalam teorinya tentang disiplin proses keperawatan mengandung elemen dasar, yaitu perilaku pasien,  reaksi perawat dan tindakan perawatan yang dirancang untuk kebaikan pasien. Asumsi lain Orlando adalah bahwa perawat harus menurunkan ketidaknyamanan baik fisik maupun mental pasien serta tidak boleh menyebabkan pasien distress.
2.      Manusia
      Manusia bertindak atau berperilaku  secara verbal dan nonverbal, kadang-kadang dalam situasi tertentu manusia dalam memenuhi kebutuhannya membutuhkan bantuan, dan akan mengalami distress jika mereka tidak dapat memenuhinya. Hal ini dijadikan dasar pernyataan bahwa perawat profesional harus berhubungan dengan seseorang yang tidak dapat menemukan sendiri kebutuhan mereka untuk dibantu. Dia juga menyatakan bahwa masing – masing pasien unik dan perawat profesional dapat mengenali perilaku yang sama pada pasien yang berbeda dimana tiap pasien memberikan tanda perbedaan kebutuhan.
3.      Sehat
      Orlando tidak mendefinisikan tentang sehat, tetapi berasumsi bahwa bebas dari ketidaknyamanan fisik dan mental dan merasa adekuat dan sejahtera berkontribusi terhadap sehat. Perasaan adekuat dan sejahtera dalam memenuhi kebutuhannya berkontribusi terhadap sehat.
4.   Lingkungan
      Orlando juga tidak mendefinisikan lingkungan. Dia berasumsi bahwa lingkungan merupakan situasi keperawatan yang terjadi ketika perawat dan pasien berinteraksi, dan antara perawat-pasien mempersepsikan, berfikir, merasakan dan bertindak dalam situasi yang bersifat segera. Pasien dapat mengalami distress terhadap lingkungan therapeutik dalam mencapai tujuannya, perawat perlu mengobservasi perilaku pasien untuk mengetahui tanda-tanda distress.

2.4  Perbandingan Disiplin Proses Keperawatan Orlando dengan Proses Keperawatan
      Sebenarnya pada umumnya kedua proses tersebut memiliki karakteristik yang sama, sebagai contoh keduanya bersifat interpersonal dan membutuhkan interaksi antara pasien dan perawat. Kedua proses tersebut juga melihat pasien sebagai ”total person”/individu secara keseluruhan, termasuk proses penyakit atau bagian – bagian tubuh. Orlando tidak menggunakan istilah ”holistic” namun dia mendeskripsikannya dengan menggunakan pendekatan holistik.
Ada beberapa perbedaan  antara disiplin proses keperawatan Orlando dengan proses keperawatan, antara lain :
A.     Assesment
1.      Tahap pengkajian pada proses keperawatan sesuai dengan reaksi perawat terhadap perilaku pasien pada disiplin proses Orlando. Perilaku pasien merupakan inisiasi untuk melakukan pengkajian
2.      Pengumpulan data menurut Orlando hanya meliputi informasi yang relevan untuk mengidentifikasi kebutuhan pasien yang perlu dibantu
3.      Orlando mendefinisikan observasi sebagai beberapa informasi yang menyangkut pasien dimana perawat memperolehnya ketika dia melakukan pekerjannya
4.      Reaksi perawat dari disiplin proses Orlando merupakan beberapa komponen untuk menganalisa proses keperawatan
5.      Produk dari analisis terhadap proses keperawatan disebut sebagai diagnosa keperawatan. Eksplorasi reaksi perawat dengan pasien dari disiplin proses Orlando mengarahkan pada proses identifikasi kebutuhan perawat untuk membantu pasien
6.      Orlando sepakat dengan interaksi antara perawat – pasien secara langsung ; hanya satu kebutuhan pada satu waktu
B.     Planning
1.      Tahap planning/perencanaan pada proses keperawatan meliputi penulisan tujuan dan sasaran serta memutuskan tindakan keperawatan yang sesuai
2.      Tujuan perencanaan Orlando selalu berusaha untuk mengurangi atau menurunkan kebutuhan pasien untuk minta bantuan : sasaran berkaitan dengan usaha peningkatan perilaku pasien
3.      Pada Proses keperawatan, partisipasi terjadi paling banyak pada penyusunan tujuan, sedangkan proses disiplin Orlando melihat pasien sebagai partisipan aktif untuk menentukan tindakan keperawatan yang aktual
C.     Implementation
1.    Implementasi meliputi seleksi akhir dan melaksanakan rencana tindakan. Merupakan tahap reaksi perawat dari disiplin proses Orlando
2.    Proses keperawatan mengharapkan perawat untuk mempertimbangkan semua dampak yang mungkin terjadi atas tindakan terhadap pasien, sedangkan disiplin proses Orlando hanya berkaitan dengan efektifitas suatu tindakan untuk mengurangi kebutuhan pertolongan secara langsung
D.    Evaluation
1.    Evaluasi pada kedua proses berdasar pada kriteria objective. Pada proses keperawatan, evaluasi menanyakan apakah ditemukan perubahan tingkah laku secara objective, namun pada disiplin proses Orlando perawat mengobservasi perilaku pasien untuk melihat apakah pasien tersebut butuh untuk dibantu
Kegagalan didalam mengevaluasi dapat menyebabkan tindakan yang inefektif seperti kegagalan dalam menemukan kebutuhan pasien dan meningkatkan biaya serta bahan perawatan

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Eagle Belt Buckles